Emas batangan cetakan PT Aneka Tambang Tbk. Harga emas 24 karat Antam dalam sepekan terakhir mengalami lonjakan hingga menyentuh hampir Rp1 juta per gram. – logammulia.com

Bisnis.com, JAKARTA – Harga emas menguat pada akhir perdagangan Rabu (27/10/2021) waktu setempat setelah bergerak fluktuatif sepanjang sesi, didukung oleh penurunan imbal hasil obligasi AS dan dolar yang lebih lemah. Namun selera risiko yang kuat di pasar ekuitas menahan kenaikan emas lebih lanjut.

Mengutip Antara, Kamis (28/10/2021), kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember di divisi Comex New York Exchange, terdongkrak US$5,4 atau 0,3 persen, menjadi ditutup pada US$1.798,80 per ounce. Sehari sebelumnya, Selasa (26/10/2021), emas berjangka merosot US$13,4 atau 0,74 persen menjadi US$1,793,40.

Emas berjangka bertambah US$10,5 atau 0,58 persen menjadi US$1.806,80 pada Senin (25/10/2021), setelah melonjak US$14,4 atau 0,81 persen menjadi US$1.796,30 pada Jumat (22/10/2021), dan melemah US$3 atau 0,17 persen menjadi US$1,781,90 pada Kamis (21/10/2021).

“Kami berada dalam periode konsolidasi untuk emas, tapi saya pikir pada akhirnya pengetatan kebijakan dan kekhawatiran inflasi akan positif untuk logam emas,” kata Edward Moya, analis pasar senior di broker OANDA.

Selera terhadap aset-aset berisiko tetap kuat setelah laporan keuangan kuartalan yang kuat dari pemilik Google, Alphabet Inc dan Microsoft Corp mengangkat Nasdaq.

Membantu emas, indeks dolar turun 0,2 persen terhadap para pesaingnya. Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10 tahun yang jadi acuan tergelincir di bawah 1,6 persen ke level terendah hampir dua minggu, mengurangi peluang kerugian memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Investor sekarang menunggu pertemuan Bank Sentral Eropa (ECB) pada Kamis dan pertemuan kebijakan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) AS pada 3 November untuk petunjuk lebih lanjut tentang jadwal waktu pengurangan pembelian aset.

ECB diperkirakan akan mempertahankan kebijakannya tidak berubah dan membiarkan keputusan tentang program pembelian obligasi darurat pandemi hingga Desember.

Sementara emas sering dianggap sebagai lindung nilai inflasi, pengurangan stimulus ekonomi dan suku bunga yang lebih tinggi mendorong imbal hasil obligasi pemerintah naik, meningkatkan peluang kerugian memegang emas.

Meningkatnya permintaan emas fisik China juga mendukung emas, menurut MarketWatch.

Emas mendapat dukungan tambahan ketika Departemen Perdagangan AS melaporkan pada Rabu (27/10/2021) bahwa pesanan barang tahan lama AS turun 0,4 persen menjadi US$261,3 miliar yang disesuaikan secara musiman pada September dibandingkan dengan Agustus.

Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Desember naik 10,3 sen atau 0,43 persen, menjadi ditutup pada US$24,191 per ounce. Platinum untuk pengiriman Januari turun US$13,6 atau 1,32 persen, menjadi ditutup pada US$1.019,3 per ounce.

PosGO Syariah, satu aplikasi untuk kelola aset berhargamu dan semua kebutuhan utilitasmu.

Follow Us

Email: halopos@posindonesia.co.id
Phone: (022)-4213640, 4213641, 4213646